Orang Ketiga
Kau orang ketiga yang masuk dalam radarku kurang dari satu tahun terakhir. Orang ketiga yang mampu membuatku bicara berlama-lama di telepon. Orang ketiga yang mampu membuat hati dan otakku tak sinkron. Orang ketiga yang memperparah insomnia yang kuderita entah sejak kapan. Sejak kuliah ato sejak orang pertama? Entahlah,
ingatan sadarku tak mampu menggapai ke titik mula insomnia menyerangku. Kau orang ketiga yang mampu membuat sahabatku meneriakan kata-kata sederhana dengan level sarkastik teratas. Yaaaah tapi itu bukan salahmu, sahabatku itu memang sangat senang meneriakan kata-kata : "Kau terlalu cepat merasa peduli kepada orang yang baru kau kenal" dengan suara tenornya yang sangat sarkatik itu. Dia memang selalu protes ketika melihat gelagatku sedikit berlebihan dari aku yang dia kenal, apalagi jika hal itu terjadi ketika aku mulai banyak bercerita tentang orang baru yang tidak dia kenal.
ingatan sadarku tak mampu menggapai ke titik mula insomnia menyerangku. Kau orang ketiga yang mampu membuat sahabatku meneriakan kata-kata sederhana dengan level sarkastik teratas. Yaaaah tapi itu bukan salahmu, sahabatku itu memang sangat senang meneriakan kata-kata : "Kau terlalu cepat merasa peduli kepada orang yang baru kau kenal" dengan suara tenornya yang sangat sarkatik itu. Dia memang selalu protes ketika melihat gelagatku sedikit berlebihan dari aku yang dia kenal, apalagi jika hal itu terjadi ketika aku mulai banyak bercerita tentang orang baru yang tidak dia kenal.
Kau memang warga baru dalam hidupku. Sebenarnya sih sudah cukup lama aku tau namamu. Tapi aku tak mengenalmu. Jujur saja, sampai sekarang pun aku tak mengenalmu dengan baik. Bukannya aku tak berusaha untuk mencari tau, tapi informasi tentangmu terlalu sulit untuk digapai. Sepertinya mereka dikunci di bagian perut bumi paling dalam. Karena dengan kemampuanku menggali informasi yg sudah teruji sejak aku kuliah pun tak mampu menembus dinding pertahanan yang menjaga informasi tentangmu. Terlalu kokoh. Terlalu terasing. Terlalu diam.
Walaupun sumber informasi tentangmu agak sedikit di luar jangkauanku, aku tak menyerah dan berhenti mencari. Menyerah bukanlah kata yang berani berjalan beriringan denganku. Karena itu, aku mencoba pendekatan lain. Aku mencoba menggali dari sumber utamanya. Dirimu. Awalnya aku berpikir bahwa aku berhasil, tapi sebelum aku sempat menarikan tarian Dora & Booth sambil bernyanyi "Berhasil...berhasil...hore...horeeee", aku tersandung pada kenyataan bahwa kau sama pendiamnya dengan fire extinguisher yang duduk diam di sudut ruangan dalam balutan warna merah yang eye catching, tapi hanya mengeluarkan isinya pada keadaan darurat saja. Sangat sulit mengetahui segala sesuatu tentangmu. Bertanya pun kadang hanya membuahkan rasa kecewa yang dalam.
Berada dalam ketidaktahuan yang mencekam, aku memutuskan untuk diam. Diam, bukan menyerah. Tidak melakukan pencarian apa pun dan mulai memberi sugesti ke diriku sendiri, bahwa apa yang kurasakan padamu selama ini, bukan berasal dari hati, itu hanya cerita dongeng yang ada dalam anganku. Sialnya, ketika aku hampir berhasil meyakinkan diriku utk tak lagi menoleh ke arahmu, kau datang mengulur asa. Sadar ato tidak, tapi kehadiranmu secara tiba-tiba di depanku, kembali menerangi rasaku yang sempat redup karena kurangnya asupan energi kepedulian darimu. Sampai saat ini, ada rasa menyenangkan yang menyusup masuk ke hatiku setiap kali aku mengingat kejadian itu. Kita kembali berbincang banyak tentang hari-hari yang kita lalui, siapa yang hari ini dinobatkan sebagai Man of The Day, siapa yang hari ini berubah terlalu menyebalkan untuk dijadikan topik pembicaraan, sampai kepada apa yang saat ini sedang kau kejar. Tapi tetap saja, apa yang kita bicarakan hanya berputar-putar pada apa yang sudah ku ketahui sebelumnya. Tak ada informasi tambahan, selain kau berhasil dalam mencapai apa yang kau inginkan.
Berada dalam posisi "sepertinya" aku mulai mengetahui dirimu yang sebenarnya, aku mulai menaruh asa padamu. Aku berharap, kau akan lebih banyak berbagi sisi lain dari dirimu. Tapi ternyata, sekali lagi, itu hanya cerita imajiner yang sering kudengar dari diriku. Di titik ini, kau tetap orang ketiga yang sama, yang kukenal beberapa saat yang lalu dengan sedikit tambahan kenangan-kenangan yang sangat berarti bagiku, tapi tidak bagimu.
Aku ingat, ada suatu saat, ketika aku menjadi sangat marah karena alasan yang menurutmu tak masuk akal. Ketika aku berada dalam puncak amarah yang lebih tinggi dari Gn. Jayawijaya, kau malah sibuk berpendapat tentang betapa tidak masuk akalnya alasanku untuk merasa marah. Itu memang terlihat sangat tidak penting bagimu, tapi bagiku itu adalah ukuran seberapa besar kau mempercayaiku. Aku tak paham bagaimana cara kau mengoperasikan otak dan hatimu, tapi aku tetap saja tak mampu menepis asa untuk memaafkanmu setelah penjelasan pendek yang terdengar tulus itu. Tapi setelah semua amarah yang kuluapkan, aku merasakan ada yang berbeda. Aku berubah. Kau berubah. Kita berubah.
Aku menjadi lebih tau diri dalam memposisikan diri sebagai orang yang peduli padamu. Kau menjadi sosok kabur yang masih kupedulikan. Kita menjadi orang asing yang "sepertinya" saling mengenal dengan baik.
*Begini nih kalo abis baca blognya si Dwitasari pasti bawaannya pengen bikin tulisan kayak gini. Hahahahaha. Thank you ya, Dek Dwita ;) Menulis kayak gini bisa mengasah kemampuan menulisku sebagai seorang amatiran ^_^

Gw BAnget dah, isi tulisan mu Chi... mengena,, apa yg aku rasakan saat ini..
ReplyDeleteTulisanmu bagus bangett..TOP MARKOTOP DAHH...
OMESS :D
Thank you, Omes sayangs. Itu juga terinsiprasi dari blog yg gw follow. Abis baca blog dia, langsung pengen nulis. Kebetulan juga waktu itu lagi pinter. Hahahahaha
ReplyDeleteKak.....tulisannya bagus banget kak. Ngena banget pas banget sama aku :') Aku izin copy ke blogku ya kak :') aku kasih sumbernya kok kak :') thanksbefore :')
ReplyDelete@Vintaa : silahkan ^_^
ReplyDelete