Kau....Ya.....Kau
Aku mengagumimu. Itulah perasaan yang kurasakan setelah beberapa bulan kau menjadi salah satu penghuni Contact BBMku. Bukan karena tampangmu, yang kata orang mirip artis. Yang aku tahu aku mengagumi caramu berpendapat, caramu bercanda, caramu berpikir ttg masa depan, walo sebenarnya kita jarang berkomunikasi.
Pertemuan pertamaku denganmu bukanlah hal yang ku tunggu-tunggu. Aku bahkan tak pernah memikirkannya. Aku tak pernah berkhayal untuk bertemu denganmu, karena aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Pertemuan singkat itu pun berakhir, tanpa kesan yang mendalam, selain saat kau "menyelamatkanku" dari pintu yg terkunci.
Komunikasi setelah pertemuan pertama mulai membuatku sedikit memikirkanmu, walau akhirnya pikiran itu pun sirna seiring dengan kesibukanku memikirkan dan melakukan pekerjaan yang kutekuni waktu itu. Aku memang tidak memikirkanmu apalagi merindukanmu, tapi aku tetap mengagumimu.
Pertemuan kedua sesingkat pertemuan pertama, tapi lebih berkesan, sangat berkesan malah. Kita menghadiri acara yang sama, berada di panggung yang sama, makan di restoran yang sama, hampir semuanya dilakukan bersama. Dari semua kebersamaan itu ada 2 hal yang aku sukai waktu itu. 2 hal yang sampai saat ini selalu berhasil memberi tempat bagimu di otakku, ketika aku berpapasan dengan mereka. Pelangi dan bintang.
Aku memang belum pernah berpapasan dengan pelangi sejak saat itu, tapi aku sering bertemu dengan bintang. Itu karena dari dulu, aku memang sangat menikmati saat-saat di mana aku menengadahkan kepala, menatap beludru hitam yg dihiasi kerlap kerlip bintang yang menawan.
Selama kebersamaan itu, kita banyak bercerita ttg hidup kita masing-masing. Ini pertama kalinya kita berbicara 4 mata dan face-to-face. Karena itu, sedikit mengejutkan sekaligus menyenangkan ketika kau mau bercerita ttg kesulitan hidupmu pada orang yang baru kau kenal. Aku senang. Karena kurasa kau mempercayaiku.
Kita mengakhiri pertemuan kedua dengan hal yang sangat lucu. Aku masih ingat, bagaimana kau bisa tertidur dalam usaha menepis ketakutan ditinggalkan oleh kendaraan yang akan kau tumpangi, sementara aku dengan sungguh memohon supaya kita bisa segera sampai karena alam memanggilku.
Beberapa hari setelah kepergianmu, aku mulai memikirkanmu bahkan merindukanmu. Tapi aku tidak mau mengakuinya. Selain itu, masih ada masalah yang lebih besar lagi yang sedang kuhadapi. Pemikiran ttg masalah itu menyita perhatianku dan mampu mengalihkan pikiranku darimu.
Walaupun pikiranku sempat teralihkan darimu selama beberapa hari, tapi ternyata rasa itu tidak hilang lenyap. Rasa itu menetap bahkan melekat dalam hatiku. Rasa itu makin membuncah. Aku mulai terusik dengan pemikiran tentangmu. Terlalu banyak yang harus kureka-reka tentang dirimu. Rasa itu menyesakkan dada. Kesesakan itulah yang mendorongku utk mengatakan isi hatiku kepadamu.
"Gw suka ama loe" adalah kata yang aku ucapkan waktu itu. Aku lalu tertawa utk menutupi rasa malu dan keki yang kurasakan. Aku tak tau ttg perasaanmu kepadaku, karena aku memang tidak berniat utk mengetahuinya. Aku tak bertanya. Bukan karena aku takut untuk mendengar jawabanmu, tapi karena aku menghargai cintamu terhadap kekasihmu. Aku tau kau begitu menyayanginya, bahkan niat jahat sahabatnya utk memisahkan kalian tidak pernah berhasil, apa pun alasannya.
Aku sempat protes ke Tuhan, kenapa aku bisa memiliki rasa untukmu. Kau, yang menyukai banyak hal yang tak kusukai. Kau, yang memiliki banyak sifat yang tidak aku inginkan dari seorang pria. Kau, yang telah memilih seorang gadis lain utk menjadi pendamping hidupmu. Kau, yang dengan lugunya menunjuk pelangi dan bintang sambil berceloteh ringan ttg mereka. Kau, ya, kau.
Tapi akhirnya, aku menggulung kembali spanduk protesku ke Tuhan, dan mencoba bersyukur utk rasa ini. Bersyukur karena aku masih bisa merasakan bahkan menyampaikannya kepadamu.
Saat ini, aku sementara membenahi perasaanku. Melangkah mundur, supaya bisa membelokkan arah hati dan pikiranku dari semua hal ttg dirimu. Walaupun jauh di dalam hatiku, masih ada secercah asa yg belum bisa kuhilangkan.
Pertemuan ketiga, keempat dan seterusnya mungkin saja bisa terjadi selama aku belum beranjak dari sini. Tapi yang pasti, aku tak kan menghindarimu. Bukan karena aku tak tau malu, tapi karena aku adalah aku.
*Thanks to Dwitasari ....kamu menginspirasiku untuk menulis roman ini :)

ini yg paling gw demen :D
ReplyDeleteGw juga paling suka yg ini ;)
ReplyDeleteSehati kita...hahahahaha
wew... dalam banget chi. makna dari tulisan ini..
ReplyDeletebanget..banget.. gw suka :)
sumuuuuuurr kali dalem.....hahahha
ReplyDeletethanks ya udah dicomment-in :*