Pain to Gain ;)

Minggu ke-3 bulan November adalah minggu penuh emosi. Amarah yang tak berdasar, cinta yang kembali meletup (ceileh, bahasanya segitu banget...hahahahaha), kasih dalam kesukaran, kebahagiaan dalam diam, ketenangan dalam keramaian, ketiduran pas jadi pembicara seminar (wkwkwkwkwkwk....kalo ini bukan saya...kebetulan inget aja, jd ditulis, hehehehe), hari kerja yang melelahkan, dan sejumlah kejadian tak terduga yg sangat menguras tenaga, pikiran dan hati.

Itulah yang menjadi alasan saya utk have a great adventure with myself aka MeTime. Sebenarnya sich, saya pengen jalan-jalan ke luar Sulawesi Utara, tapi pas comparing budget dengan harga tiket, puuuuuuffff...sirnalah keinginan saya utk melakukan hal tsb. Untunglah saya cukup mahir dalam membuat Contingency Plan (thanks to my Marketing Lecturer on Internationl Business Administration - IBA ^_^). Finally, saya memutuskan utk ke Danau Linow yang ada di daerah Tomohon sbg tempat "bersemedi" utk wiken. FYI, Danau Linow adalah one of Must-Visit-Place di Tomohon.

Pas wiken, saya bangun kesiangan (as usual :p) + disuruh beresin rumah karena sorenya akan ada kebaktian. Hal itulah yang bikin saya, memulai weekend adventure saya ketika hari sudah hampir sore diiringi dengan hujan deras + badai. Berhubung saya sudah sangat bertekad utk adventuring, hujan badai pun saya lewati utk sampai ke tujuan (mulai lebay deh bahasanya :p). Berbekal laptop + modem, 1 baju ganti, 2 buku bacaan, rexona, sabun cuci muka, jaket, payung, hp + kabel data dan sebotol Aqua yang saya kemas dalam 1 tas ransel yg cukup gede, saya pun menyetop angkot yang menuju ke terminal bus.

Sampai di terminal Pinasungkulan, saya celingak celinguk nyari kendaraan yang ke Kawangkoan, karena sesuai info dari temen saya, Deysi, kendaraan itu akan melewati (jalan masuk aka lorong ke) Danau Linow, dan (sepengetahuan saya) kalo naik bus Tomohon, maka saya perlu naik kendaraan lain utk sampai ke sana. 2 kali bolak-balik di dalam terminal dalam kebingungan, akhirnya saya memutuskan utk bertanya ke salah satu sopir di situ. Sesuai deskripsinya, kendaraan yang akan saya tumpangi ke Kawangkoan ternyata bukan bus, tapi kendaraan Hiace. Menimbang-menimbang kendaraan yang harus saya naiki + hari yang udah mulai sore + cuaca waktu itu, akhirnya saya memutuskan utk kembali merubah tempat tujuan saya. Saya memutuskan utk naik bus ke Tomohon, tapi belum punya tempat yg spesifik utk dikunjungi. Yang saya pikirkan waktu itu adalah pergi meninggalkan Manado utk couple hours (yang berakhir menjadi couple day :D)

Di dalam bus, angin yang berhembus dari pintu - kebetulan saya duduk pas di depan pintu - membuat saya merasa kedinginan, jadi saya memutuskan utk pake jaket, memeluk ransel, duduk dalam posisi yang nyaman, kemudian tidur. Berhubung saya jalannya sendiri, jadi saya gak bisa tidur nyenyak, takut salah turun terminal. Kan gak lucu, kalo pas saya bangun udah di terminal Pinasungkulan lagi...hahahahhaha...gak kebayang deh kalo itu kejadian.

Perjalanan Manado - Tomohon memakan waktu hampir 1 jam, karena keadaan jalan yang licin. Akhirnya, sekitar jam 4 sore saya sampai di Kota Bunga, Tomohon. Udara dingin khas Tomohon (kayak makanan aja :D) + hujan deras yang ternyata juga mengguyur Tomohon langsung menusuk kulit ketika saya turun dari bus. Untung saja, tempat bus itu berhenti ada tempat utk berteduh + 1 kursi panjang. Sambil duduk2 di kursi tsb, saya mencoba mengingat kembali tempat2 yg cukup aman & nyaman dikunjungi di Tomohon, apalagi dengan cuaca yg tidak bersahabat dengan turis lokal seperti saya :p. Akhirnya saya memutuskan utk pergi ke Kobong Kafe. Sialnya, saya gak tw pasti alamat kafe tersebut. Yang saya inget, kafe itu terletak di depan Kantor Pertamina Tomohon. Berbekal ingatan tersebut, saya coba bertanya ke bbrp penumpang yg sama2 baru turun dari bus. Tapi ternyata mereka pun sama dengan saya, hanya pendatang. Saya mencoba menelepon beberapa teman yang tinggal dan bekerja di Tomohon, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang menjawab telepon ato sms saya. Karena belum dapat jawaban, saya pun bertanya ke Pemilik Salon yg lagi nge-rebonding rambut pelanggannya. Akhirnya saya mendapat pencerahan di sore yg mendung ttg tempat yg akan saya tuju. Sesuai petunjuk yang saya dapat, saya pun berjalan kaki ke tempat angkot. Setelah menunggu beberapa waktu dan bertanya ke beberapa orang, akhirnya saya bisa naik angkot dan sampai ke Kobong Kafe.

Memasuki Kobong Kafe, keadaan kafe itu masih cukup sepi. Ada 5 orang anak-anak SMP, 1 orang mahasiswa (yg tak lama kemudian didatangi 2 temannya yg lain) dan 2 org bapak2. Dengan sekitar 6-7 meja yg masih kosong, saya memilih utk duduk agak jauh dari pengunjung yg lain utk mendapat lebih banyak suasana sunyi dan privacy. Hot Baileys Cappuccino & Roti Bakar Coklat Keju + beberapa jejaring sosial (di sini ada wi-fi, FYI) menemani sore yang sementara beranjak pergi ke peraduan berganti malam yg dingin dan agak mencekam, mengingat lampu yg dipasang adalah lampu2 temaram. Mencoba melupakan semua masalah yg saya hadapi minggu ini, saya mencoba menuangkan unek-unek saya ke dalam sebuah tulisan. Tapi hal itu sama sekali tidak berhasil. Saya bukan hanya tidak berhasil membuat satu tulisan, saya juga tidak berhasil menepis semua sakit hati, kecewa, penyesalan, perasaan bersalah, cinta, dan simpati yang bergemuruh hebat dalam hati dan pikiran saya. Sementara saya masih bergulat dengan semua emosi yg campur aduk, saya menerima sms dari salah satu teman yang sempat saya hubungi tadi. Berhubung saya sudah mulai gak betah di Kobong Kafe, karena semakin malam semakin banyak org yg datang sehingga suasana kafe menjadi ramai, akhirnya saya memutuskan utk mengunjungi teman saya tsb. Setelah berbicara dengannya dan mendapatkan alamat rumahnya saya beranjak dr Kobong Kafe dan kembali naik angkot ke rumah teman saya itu. Sekitar pukul 8 malam, saya sampai di tempat teman saya, Irene. Baru nyampe, saya udah disuruh nginap sama Mamanya Irene. Katanya udah terlalu malam utk pulang ke Manado. Padahal sich, saya rencananya akan balik ke Manado jam 10 malam. Berhubung udah didesak utk bermalam, akhirnya saya memutuskan utk menelpon orang rumah, ngasih kabar kalo malam ini, saya gak pulang dan tidur di rumah Irene. Sialnya, waktu nelpon orang rumah jaringan telepon lagi gangguan, jd saya berasa ngomong sama org budek (sorry to say, Dad...hahahahahaha), secara saya ngomong sambil teriak2, begitu juga yg ada di seberang telepon. Alhasil 22nya gak bisa ngerti inti dari percakapan tsb. Takut pas pulang didamprat sama orang tua, saya terus mencoba utk menelepon, tapi hasilnya ttp sama. Akhirnya saya coba ngejelasin kondisinya via SMS.

Setelah dapat izin, akhirnya saya mulai ngobrol ama Irene. Biasalah, apalagi yg akan dilakukan para gadis pas sleepover selain ngomongin girls' talk. Mulai dari masalah kerjaan, pergaulan sampe ngomongin hati. Mulailah qt curhat sambil ketawa ketiwi. Alhasil, pas jam nunjukin pukul 12 malam, pintu kamar diketok sama mamanya Irene dan kita pun disuruh tidur. Sebagai insomnia sejati, mata saya pantang nutup kalo belum besok (read : subuh :p), karena itu lampu kamar dimatiin tp kita ttp ngobrol dengan volume suara yg diperkecil 75x. Setelah puas ngobrol, qt pun fall asleep.

Besoknya, saya berencana pulang jam 7 spya bisa ke gereja pagi. Tapi karena telat bangun, akhirnya saya ikut Irene dan keluarga ke gereja mereka. I was so excited by then, soalnya ini kali keduanya saya beribadah di Gereja Katolik (basically, saya Protestan). Saya udah banyak mendengar ttg kekhusukan ibadah di Gereja Katolik, and I was enjoying to had Sunday Service there. Ada satu doa yg kenaaaaaaaaa banget ke saya waktu itu, mengingat alasan saya "melarikan diri" ke Tomohon. I still thanking God for His Words spoke to me that day. He made my day (literally ^_^). Selesai kebaktian, rencananya mau jalan2 tapi berhubung hujan, jalan2nya ditunda. Sambil menunggu hujan berhenti, maka terjadilah curhat2an dan "perang status" antara saya dan Irene...hahahahaha...we shared a lot of things, laugh on it a lot :D

Hujan reda, dan sebagai tuan rumah yg baik Irene mengajak saya jalan2 ke Pagoda. I was a little bit attentive to narcissism that day, so I took a lot of pics of me (unusual for Cichi Today...hahahahahaha). Selain Danau Linow, Pagoda juga adalah one of Must-Visit-Place di Tomohon. Buat yang beragama Budha juga bisa sembahyang di sini. Naik ke puncak Pagoda 9 lantai (agak ngos2an juga mengingat berat ransel & body saya yg harus diseret ke lt. 9...huuuuft), kita bisa ngeliat Gunung Lokon di depan dan Bukit Kelong di belakang Pagoda. The other Must-Visit-Place di Tomohon (worth dah ngos2annya). Puas berpose dengan para dewa & dewi (esp. Dewi Quan In...love her much, know her since a little girl - sok akrab banget :p hahahahahaha), saya diajak makan es di Parakletos. FYI, Parakletos itu tempat wiskul di Tomohon yang T O P   B G T. Pisang Goreng + beraneka macam es bisa ditemui di sana. Sebenarnya sore itu udara udah berasa dingin, maklum Tomohon kan terletak di daerah pegunungan kayak Puncak lah, tapi we can't resist godaan Es Kacang Ijo + Es Advocat Susu + Pisang Goreng. Yummmmmyyyy.....slllluuuuurrrrp :p


Selesai makan, kami mampir ke Pusat Kota Tomohon utk ngambil pesanan kue utk kebaktian di rumah Irene malam itu. Balik ke rumah Irene, hari udah gelap. Karena gak mau tuan rumahnya khawatir tamunya pulang kemalaman, saya langsung pamit pulang. Saya dianterin Irene sampe di depan jalan raya dan ternyata dibungkusin kue apang yg maknyoooos tenan. Saya pun pulang ke Manado naik bus, dan mengalami perjalanan pulang yg sangat2 menyenangkan *wink wink (that's another story and I'm not ready yet to write it down here...wkwkwkwkwkwk)

Minggu ke-3 bulan November adalah salah satu minggu terburuk yg pernah saya alami, tapi semuanya terobati dengan The Greatest Weekend ever dengan Irene dan keluarga. Thanks a lot for the times, rooms, meals (agak malu juga sich makan semeja sama sodaranya bos :p), and so on and so on. Pokoknya terima kasih banyak, I learn a lot from all of the people I contacted with and things I saw that weekend.

Thank God for the opportunity to be grateful in pain #hugs&kisses

Comments

Popular Posts